P3K: Persiapan dan Teknik CPR (Nafas Buatan)

P3K: Persiapan dan Teknik CPR (Nafas Buatan) – Cardio Pulmonary Resuscitation (CPR) ini secara sepintas telah disinggung di beberapa tulisan mengenai Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K). Teknik ini biasa disebut dengan istilah Kardio atau CPR. CPR adalah satu teknik atau cara yang dilakukan untuk membangkitkan fungsi jantung dan paru-paru yang terhenti atau terhentinya denyut nadi dan korban. Sebagai salah satu teknik pengamanan jiwa dalam situasi darurat maka penggunaan teknik Kardio ini memerlukan keterampilan, latihan dan pernah mempraktikkannya. Sebagai satu cara yang sangat menentukan pada kondisi yang gawat dan kritis maka dianjurkan pada setiap keluarga atau lingkungan kecil mempunyai seseorang yang mampu melakukan teknik Kardio ini secara benar.

Langkah-langkah yang diambil sebelum melakukan teknik Kardio atau CPR ini adalah:

1. Pastikan sudah tidak ada lendir, benda atau apapun yang dapat menghambat saluran pernafasan korban.

2. Periksa denyut nadi pergelangan tangan korban.

Dengan atau tanpa seorang yang membantu, segeralah melakukan sesuatu untuk membantu membangkitkan kembali fungsi jantung dan paru-paru korban, termasuk upaya melakukan pernafasan buatan dan mulut ke mulut, pijitan atau tekanan pada dada tertutup.

P3K: Persiapan dan Teknik CPR (Nafas Buatan)
Selajutnya tindakan untuk membangkitkan kembali fungsi jantung dan paru-paru (teknik CPR) adalah sebagai berikut:

1. Membaringkan korban terlebih dahulu secara rata ke tanah atau lantai. Badan dijongkokkan ke samping untuk kemudian pukullah tulang dadanya sedikit agak keras dengan kepalan tangan Anda. Tindakan ini berkemungkinan besar akan membangkitkan fungsi dan denyut jantungnya.

2. Namun bila dengan cara ini belum berhasil juga, lakukan langkah berikutnya yakni rabalah tulang dadanya. Letakkan satu jari dari tangan kiri pada tulang ini. Selanjutnya letakkan tumit (bukan telapak) tangan kanan ke samping jari ini. Letakkan tangan kiri di atas tangan kanan.

3. Selanjutnya, tekan ke bawah dengan kuat dan cepat. Gunakan tenaga secukupnya untuk menekan sepertiga dan tulang dada itu sampai mencapai kedalaman 4 cm. Ukuran ini bisa di dapatkan dengan memanfaatkan punggung dan
berat badan Anda.

4. Sekarang bebaskan korban dari beban tubuh Anda. Setelah itu lakukan kompres berirama sekali dalam setiap detik. Tekan…. lepas…. tekan…. lepas, begitu seterusnya.

Setiap kali melakukan penekanan, pijatlah daerah jantung korban dengan tujuan untuk memompakan darah ke sekujur tubuhnya. Pijatan ini seakan-akan atau berfungsi untuk menggantikan denyut jantung dan korban.

Bila Anda hanya sendirian saja, maka berhentilah pada setiap 15 kali tekanan. Kemudian berikan kepada korban pernafasan buatan dari mulut ke mulut sebanyak dua kali. Lakukan 15 kali tekanan irama dengan diselingi dua kali tiupan nafas dari mulut sampai pertolongan dan orang lain atau dokter tiba.

Bila ada orang lain yang membantu, suruhlah dia untuk berjongkok di dekat kepala korban dan memberikan pernafasan bantuan dari mulut ke mulut sebanyak 12 kali dalam satu menit dengan perincian sekali pada setiap lima kali penekanan irama yang dilakukan pada jantung.

Lakukan usaha pembangkitan fungsi jantung dan paru-paru (CPR) ini hingga korban dapat “hidup kembali”. Tanda dan kembalinya fungsi jantung dan paru-paru adalah: biji mata korban bergerak, warna muka kembali normal, mulai ada pernafasan dan nadi kembali berdenyut.

Jika kondisi denyut sudah didapatkan kembali maka kehidupan korban dapat dipertahankan paling tidak selama satu jam ke depan. Namun begitu ada satu hal yang harus diwaspadai. Walaupun penanganan CPR ini telah dilakukan dengan teknik yang benar, namun pelaksanaan CPR ini mempunyai risiko berupa retaknya tulang rusuk. Akibat ini bisa terjadi jika pelaksanaan CPR ini dilakukan secara tidak baik. Akibatnya ujung dari tulang dada atau rusuk patah dengan dampak susulannya dapat melukai hati dan paru-paru. Karena itu, sebelum mempraktikkan teknik CPR sebaiknya Anda dibekali dengan pengetahuan dan latihan. Latihan bisa didapatkan pada Badan Palang Merah setempat atau jawatan kesehatan di tempat Anda tinggal.

Namun begitu, dalam keadaan darurat dan benar-benar memaksa, tidak disalahkan untuk melakukan CPR ini meski belum pernah melakukan latihan sama sekali. Pertimbangannya, jika CPR tidak dilakukan maka akan berakibat pada terhentinya denyut pada jantung dan pernafasan dalam waktu yang lama dan ini bisa berakibat sangat fatal bagi korban. Korban bisa meninggal karena pernafasan dan denyut jantungnya berhenti melebihi ambang batas.

Demikianlah artikel P3K: Persiapan dan Teknik CPR (Nafas Buatan). Topik yang serupa dengan artikel ini, dapat Anda temukan dalam kategori Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K).

Jika Anda tertarik dengan artikel sebelumnya silahkan klik P3K: Sulit Bernafas, Pernafasan Berhenti dan Cara Pernafasan Buatan. Silahkan kunjungi artikel terbaru tentang P3K kami yang lain. Semoga bermanfaat.

P3K: Sulit Bernafas, Pernafasan Berhenti dan Cara Pernafasan Buatan

P3K: Sulit Bernafas, Pernafasan Berhenti dan Cara Pernafasan Buatan – Sebagaimana telah disinggung di pembahasan mengenai P3k: Pingsan, nafas dan pernafasan merupakan salah satu faktor dan indikator pertama dan utama yang harus kita ketahui dan pastikan ketika kita akan melakukan upaya pertolongan pertama pada korban. Kecelakaan yang mengakibatkan terhentinya fungsi pernafasan bisa terjadi karena tenggelam dalam air, tersengat arus listrik, kebanyakan menghirup asap yang mengandung karbon monoksida, terkena bahan-bahan kimia, terjatuh dengan keras dan sebagainya.

Ketika menemukan korban yang mengalami kesulitan dalam bernafas atau pernafasan terhenti, langkah yang harus dilakukan adalah memeriksa dan memastikan bahwa saluran pernafasannya tidak tersumbat sesuatu. Untuk mengetahuinya, dilakukan upaya membuka mulut korban untuk selanjutnya dilihat apakah terdapat sesuatu atau ada cairan dalam mulut dan tenggorakan korban. Benda, cairan atau sesuatu yang lain dalam mulut atau tenggorokan korban bisa menghambat pernafasannya.

Kemudian perhatikan dada korban, dan periksalah udara yang ada di hidung dan mulutnya dengan menggunakan jari. Ini dilakukan untuk mengetahui tiupan nafas dan korban dan juga periksa denyut nadi yang ada pada pergelangan tangannya.

Bila korban tidak dapat bernafas karena tenggelam, terkena arus listrik, terkena asap dan bahan kimia atau karena sebab yang lain namun jantungnya masih berdegup dan berdenyut maka lakukan bantuan pernafasan dari mulut ke mulut.

Khusus untuk korban sengatan arus listrik, sebelum menyentuh korban dan melakukan upaya pembuatan pernafasan buatan dan mulut ke mulut, pastikan dahulu bahwa kontak korban dengan arus listrik telah diputuskan.

Sementara itu khusus untuk seorang yang tidak dapat menggunakan tenggorokannya untuk melakukan aktivitas pernafasannya karena sedang menjalani operasi. Dalam situasi seperti ini, ia bernafas melalui lubang yang dibuat di bagian muka dari lehernya yang disebut stoma. Jika terjadi sesuatu yang tidak diharapkan dan orang yang menjalani operasi ini mengalami kesulitan atau berhenti bernafas maka upaya untuk melakukan pernafasan buatan dilakukan dengan cara menempelkan mulut ke stoma tersebut.

Dan jika di sekitar korban terdapat gas dan uap, maka sebaiknya pindahkan korban ke tempat yang berudara bebas dan segar.

P3K: Sulit Bernafas, Pernafasan Berhenti dan Cara Pernafasan Buatan
Jika Anda mendapati seseorang pingsan karena hal-hal yang sudah disebut diatas, janganlah panik, dan berikan nafas buatan. Langkah-langkah yang perlu dilakukan ketika akan dan sedang memberikan pernafasan buatan kepada korban adalah:

1. Baringkan korban dan bersihkan mulutnya dari semua benda asing yang mungkin ada di sekitar mulut. Lakukan ini dengan menggunakan jari tangan. Letakkan sebelah dari tangan Anda ke tengkuk korban sementara tangan yang satunya lagi untuk menahan kepalanya di bagian dahi. Dengan demikian maka posisi kepala agak terkulai ke belakang.

2. Angkat dan tegakkan dagu korban ke atas.

3. Pijit hidung korban sampai menjadi rapat dan benar-benar tertutup. Kemudian buka mulutnya dan tempelkan mulut Anda. Tiuplah dengan sekeras-kerasnya sampai dada korban terlihat mengembang. Jika korban adalah anak kecil, Anda dapat melakukan peniupan sekaligus pada mulut dan hidungnya.

4. Lepaskan tempelan mulut Anda untuk kemudian dengarkan dengan seksama apakah ada atau tidak tarikan nafas korban. Untuk dapat memastikannya, lakukan hal ini beberapa kali. Bila tindakan ini belum mendapatkan hasil, coba periksa pada kepala dan rahang korban. Tindakan ini dilakukan untuk mencari tahu, apakah masih ada benda tertinggal lainnya yang mengambat masuknya udara. Setelah itu lakukan lagi melakukan pernafasan buatan.

5. Bila belum juga ada pertukaran udara makalangkah selanjutnya adalah memiringkan tubuh korban ke satu sisi dan kemudian lakukan sebuah pukulan yang agak keras beberapa kali ke bahu dan pundak korban. Tujuannya adalah untuk melepaskan sesuatu yang mungkin masih menyumbat tenggorokännya. Bila korban anak kecil, hal ini dapat dilakukan dengan cara menelungkupkannya di tangan atau pangkuan Anda kemudian pukullah beberapa kali di antara bahu dan pundaknya. Selanjutnya bersihkanlah mulutnya.

6. Ulangi terus bantuan pernafasan buatan dan mulut ke mulut pada korban. Untuk orang dewasa tiupan keras itu dilakukan sekali dalam lima detik, sementara pada anak kecil dilakukan sekali dalam tiga detik. Bila Anda tidak nyaman dengan cara pernafasan buatan ini dan menginginkan cara alternatif yang lain, bisa dengan meletakkan sehelai sapu tangan di atas mulut korban lalu tiuplah sapu tangan tersebut. Jangan berputus asa untuk terus melakukan upaya ini sampai korban dipastikan dapat bernafas kembali. Banyak korban yang telah tertolong dan bisa bernafas lagi setelah dilakukan pèrnafasan buatan selama berjam-jam.

7. Setelah semuanya dijalani dan korban dapat bernafas lagi, segera panggilkan dokter atau ambulans. Tempatkan selimut atau jas di bawah badan dan di atas korban untuk menjaga badannya tetap hangat. Bila korban telah sadar kembali, usahakan agar ia tetap berbaring dan jangan perbolehkan berdiri selama satu jam.

Demikianlah artikel P3K: Sulit Bernafas, Pernafasan Berhenti dan Cara Pernafasan Buatan. Topik yang serupa dengan artikel ini, dapat Anda temukan dalam kategori Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K).

Jika Anda tertarik dengan artikel sebelumnya silahkan klik P3K: Terkena Tumbuhan Beracun dan Keracunan Karbon Monoksida. Silahkan kunjungi artikel terbaru tentang P3K kami yang lain. Semoga bermanfaat.