Tipe Gaya Kebiasaan Berbelanja Si Maha Sempurna

detikLife – Seperti apa gaya belanja Anda? Pemilih yang butuh waktu lama untuk memutuskan belanja atau yang main sabet apa saja yang tersedia karena tak punya waktu untuk berpikir?

Bulan-bulan mendekati Lebaran, Natal dan Tahun Baru bisa jadi kita bakal disibukkan oleh acara belanja buat Lebaran, Natal dan Tahun Baru. Dari belanja untuk diri sendiri sampai hadiah untuk anggota keluarga, kekasih dan teman tercinta. Bagi wanita berbelanja adalah kegiatan yang sangat menyenangkan, karena membuatnya lebih bergairah. Pada saat berbelanja, mata dan otak wanita akan bekerja secara maksimal. Kedua organ ini dengan sangat mudahnya merekam langsung berbagai hal yang tampak. Itu bukan hal sulit bagi perempuan. Sebaliknya, buat pria, kegiatan belanja tak ubahnya dengan kegiatan lain. Membeli barang yang diinginkan. Mudah saja, langsung saja. Tak ada keinginan untuk mencari-cari, melihat-lihat, dan memilih-milih.

Tipe Gaya Kebiasaan Berbelanja Si Maha Sempurna
Berbelanja buat wanita memang kegiatan yang khas. Bahkan seorang bintang film jaman lama, Zsa-Zsa Gabor pernah mengatakan bahwa bagi wanita, kenikmatan berbelanja adalah orgasme yang sesungguhnya. Benar tidaknya, sungguh cuma Anda yang tahu. Tetapi ada hal yang menarik dari kegiatan belanja ini. Konon, cara kita membeli barang bisa mengungkapkan banyak hal.

Miriam Tatzel, seorang dosen psikolog di SUNY Empire, State College, New York yang mempelajari kebiasaan berbelanja wanita mengatakan, “Tak semua orang punya cara berbelanja yang sama. Ada yang sangat sistematis: sudah merencanakan segala sesuatunya jauh-jauh hari, hadiah bahkan sampai kertas pembungkusnya pun disesuaikan dengan calon penerimanya.”

Kebiasaan ini sangat individual sifatnya dan termasuk sifat bawaan. Bila Anda suka berbelanja pada detik-detik terakhir, jangan berharap bisa berubah jadi sebaliknya. “Karena sifatnya yang sangat individual, maka jangan pernah merasa terpaksa menghabiskan energi, waktu dan tenaga untuk mengubah gaya belanja Anda,” ujar Lisa Kanarek, penulis dari Everything’s Organized. “Cara terbaik untuk berbelanja dan memberi hadiah adalah dengan menikmati prosesnya, detik demi detik,” katanya.

Sekarang, mari kita lihat kebiasaan belanja kita masing-masing. Setelah itu pelajari bagaimana memanfaatkan gaya belanja tadi agar jumlah uang yang keluar setara dengan barang yang didapat.

SI MAHA SEMPURNA
Anda tak akan pernah melewatkan sepotong hadiah atau barang yang dibeli terlewat tanpa inspeksi super ketat. Dari bentuk, warna, kertas bungkus, kartu, bahkan sampai kata-kata yang digoreskan, semua harus dipilih satu demi satu. Tak akan ada hadiah yang sama, kata-kata dan kartu yang sama untuk dua orang. Specialized! Untuk satu orang saja, Anda bisa menghabiskan waktu hingga berminggu-minggu. Tetapi itu bukan masalah buat Anda.

Ketika Lebaran atau Natal tiba, bisa jadi Anda telah menemukan semua hadiah rapi dibungkus. Tetapi tak tertutup kemungkinan Anda malah tak punya hadiah apa pun karena belum sreg juga dengan yang ada. Jangan sampai Anda mempunya penyakit si Maha Sempuma: berani menghabiskan banyak uang dan waktu sepanjang hadiah idaman bisa diperoleh. Bahkan Anda menyempatkan diri untuk pergi ke luar negeri hanya untuk membeli sebuah hadiah.

Supaya Aman: Kalau Anda termasuk pembelanja tipe ini, cobalah untuk mengkaji ulang standar nilai Anda. Paksakan diri untuk menghitung celana yang ada. Lalu tanyakan pada diri sendiri: Perlukah semuanya dibelanjakan untuk satu kesempatan saja? Untuk satu orang saja? Bagaimana kedekatan Anda dengan si penerima hadiah? Akankah dia menerima dengan gembira?

Untuk anak berusia 10 tahun, stik drum ala Phil Collins mungkin tak terasa maknanya. Sadari sepenuhnya, bahwa perhatian dan kasih sayang tak bisa dibeli dengan hadiah yang sempuma. Anda tak akan lebih dicintai karena memberi hadiah yang mahal. Sadari sepenuhnya Anda akan tetap dicintai meski hadiah tahun ini biasa-biasa saja, atau bahkan tanpa hadiah sekali pun. Bisa jadi mereka malah lebih senang bila Anda tak harus bersusah payah mencari hadiah. So, Anda tak perlu merepotkan diri membeli 300 hadiah untuk semua kemenakan dan anak sepupu baik yang langsung maupun tidak, bahkan Anda membeli 15 hadiah saja untuk anak-anak kakak itu sudah cukup banyak.

Banyak orang yang mengaku merasa tersiksa menerima hadiah dari orang lain apalagi nilainya cukup mahal. Misalnya Anda memberi hadiah t-shirt dengan merek terkenal setiap Natal kepada suami. Anda merasa dia perlu t-shirt yang keren untuk dipakai jalan-jalan. Sementara buat suami, t-shirt itu lebih enak dipakai tidur dan membongkar mobil. Makanya ia memilih yang sudah tua, jelek dan bahkan lubang-lubang. Kalau mereknya mahal, mau dipakai ke mana? Karena untuk jalan-jalan, misalnya, ia lebih suka pakai kemeja lengan pendek.

loading...